WARAK NGĚNDHOG (ꦮꦫꦏ꧀ꦔꦼꦤ꧀ꦝꦺꦴꦒ꧀)

Minggu, 3 April 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dentumnews | Warak ngěndhog (ꦮꦫꦏ꧀ꦔꦼꦤ꧀ꦝꦺꦴꦒ꧀) adalah wujud yang selalu muncul dalam perayaan Dugderan. Dugderan adalah suatu festival rakyat di Kota Semarang, Jawa Tengah yang diadakan untuk menyambut dan memeriahkan datangnya bulan Ramadhan, sekaligus sebagai upaya dakwah.

Kata ‘warak’ berasal dari bahasa Jawa yang bermakna ‘hewan badak’. Kendati demikian ada pendapat lain mengatakan, bahwa ‘warak’ berasal dari bahasa Arab yang bermakna ‘suci’. Dan ngěndhog (bertelur) melambangkan hasil pahala yang didapat seseorang setelah menjalani proses penyucian.

Foto: dari berbagai sumber

Secara harfiah warak ngěndhog dapat diartikan: siapa saja yang menjaga kesucian di bulan Ramadhan, kelak di akhir bulan akan menerima pahala pada hari kemenangan.

Warak ngěndhog ini wujudnya merupakan akulturasi dari berbagai golongan etnik di Semarang yaitu etnik Jawa, Tionghoa, dan Arab. Wujud kepalanya menyerupai kepala naga merupakan pengaruh budaya dari etnik Tionghoa, sedangkan tubuhnya berambut ikal-keriting ataupun lurus-berjumbai seperti rambut unta menunjukkan pengaruh budaya dari etnik Arab, kemudian keempat kakinya menyerupai kaki kambing mewakili pengaruh budaya etnik Jawa.

Konon ciri khas bentuk warak ngěndhog yang lěmpěng (lurus) ini mengandung arti filosofis mendalam. Bentuk lěmpěng itu menggambarkan citra warga Semarang yang terbuka lurus dan berbicara blak-blakan apa adanya.

Foto: dari berbagai sumber

Di muka telah disebutkan, bahwa kehadiran warak ngěndhog berkaitan erat dengan Festival Dugderan. Konon yang pertama kali menggelar Dugderan adalah Bupati Semarang Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Arya Purbaningrat pada tahun 1881.

Baca Juga :  TNI AL Prioritaskan Pembelian Alutsista Strategis, Berikut Daftarnya

Istilah Dugderan berasal dari “dug dug dug” suara bedug yang ditabuh dan “der der der” dari suara meriam yang dulunya digunakan sebagai penanda dimulainya awal bulan Ramadhan.Dua sejarawan Semarang Liem Thian Joe dan Amen Budiman dalam buku-buku mereka, tidak pernah menyebut siapa pencipta warak ngěndhog dan kapan waktu penciptaannya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Amen Budiman, diperkirakan wujud rekaan yang menjadi maskot acara itu mulai dikenal masyarakat pada akhir abad ke-19. Asumsinya ini dilihat dari kemunculan mainan warak ngěndhog dalam setiap perayaan měgěngan atau Dugderan.

Baca Juga :  Penembakan KRL di Kebayoran Bikin Kaca Berlubang, Ini Penampakannya

Dalam Festival Dugderan warak ngěndhog yang berwarna-warni ditampilkan bersama para penari. Penari-penari dari perwakilan tiap wilayah Kota Semarang yang menggotong warak ngěndhog juga mengenakan warna-warni busana tradisional Semarang.

Setelah upacara selesai, warak ngěndhog dan rombongan penari serta para warga yang mengikuti karnaval ikut arak-arakan dengan berjalan kaki menyusuri bagian tengah Kota Semarang dan berhenti di masjid tertua di Semarang, yakni Masjid Kauman Semarang.

Warak ngěndhog sebagai simbol kerukunan tiga etnik di Semarang dijadikan monumen di salah satu taman di Jalan Pandanaran. Lokasi tepatnya di pertigaan antara Jalan Pandanaran, Jalan MH. Thamrin, dan Jalan Mugassari, Semarang Selatan, Kota Semarang.

Sumber : Sigarda Indonesia

Berita Terkait

Mengenal Sejarah Nusantara
Berita ini 2 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 5 April 2022 - 03:33 WIB

Mengenal Sejarah Nusantara

Minggu, 3 April 2022 - 12:12 WIB

WARAK NGĚNDHOG (ꦮꦫꦏ꧀ꦔꦼꦤ꧀ꦝꦺꦴꦒ꧀)

Berita Terbaru